Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Mbah Kaji

Tole menatap jendela kereta yang berembun. Pagi masih enggan merekah, sementara rangkaian gerbong terus melaju membelah pekat. Jakarta sudah jauh di belakang, dan sebentar lagi kampung kecil di lereng Gunung Perahu akan menyambutnya dengan udara sejuk dan aroma tanah basah. Pikirannya melayang pada sosok yang akan ditemuinya: Mbah Kaji. Sosok yang dulu keras seperti baja, kini renta namun tetap teguh dalam prinsipnya. Seminggu sebelum berangkat haji tahun lalu, Mbah Putri telah pergi meninggalkannya. Harusnya mereka berangkat berdua. Tole tahu, luka itu masih membekas dalam dada Mbah Kaji, meski bibirnya tetap menggumamkan doa dengan pasrah. Kereta melambat saat memasuki stasiun kecil. Tole meraih tas ranselnya, melangkah turun, lalu menghirup dalam-dalam udara kampungnya. Harum bunga kopi bercampur dengan bau tanah lembap menyergapnya dalam pelukan nostalgia. Di ujung peron, Mbah Kaji sudah berdiri. Baju koko putih dan sarung lurik membalut tubuhnya yang semakin kecil. Waj...

Postingan Terbaru

Pelita di Negeri Bintang

Life is a Deception

Pulangnya Penduduk Langit

Hijrah

Conscious vs Subconscious Mind