Mbah Kaji


Tole menatap jendela kereta yang berembun. Pagi masih enggan merekah, sementara rangkaian gerbong terus melaju membelah pekat. Jakarta sudah jauh di belakang, dan sebentar lagi kampung kecil di lereng Gunung Perahu akan menyambutnya dengan udara sejuk dan aroma tanah basah.


Pikirannya melayang pada sosok yang akan ditemuinya: Mbah Kaji. Sosok yang dulu keras seperti baja, kini renta namun tetap teguh dalam prinsipnya. Seminggu sebelum berangkat haji tahun lalu, Mbah Putri telah pergi meninggalkannya. Harusnya mereka berangkat berdua. Tole tahu, luka itu masih membekas dalam dada Mbah Kaji, meski bibirnya tetap menggumamkan doa dengan pasrah.


Kereta melambat saat memasuki stasiun kecil. Tole meraih tas ranselnya, melangkah turun, lalu menghirup dalam-dalam udara kampungnya. Harum bunga kopi bercampur dengan bau tanah lembap menyergapnya dalam pelukan nostalgia.


Di ujung peron, Mbah Kaji sudah berdiri. Baju koko putih dan sarung lurik membalut tubuhnya yang semakin kecil. Wajahnya tenang, bersih, meski keriputnya semakin banyak. Begitu melihat Tole, senyum lebar mengembang, dan langkahnya yang tertatih tak mengurangi semangatnya untuk segera mendekat.


"Assalamu'alaikum, Le..."


"Wa'alaikumussalam, Mbah!"


Tole segera meraih tangan Mbah Kaji, mengecupnya dengan penuh takzim. Ada kehangatan yang selalu ia rindukan di sana. Mereka berjalan beriringan menuju terminal bus engkel dekat stasiun. 


"Gimana, Jakarta? Masih rame?"


Tole tertawa kecil. "Tambah rame, tambah macet. Tapi nggak ada yang ngalahin macetnya pasar sore di kampung kita pas H-2 Lebaran, Mbah."


Mbah Kaji tergelak. "Iya, iya! Orang-orang udik kalau udah megang duit THR, seolah semua harus dibeli dalam sehari."


Bus melaju pelan, menyusuri jalan kecamatan yang sudah mulai beraspal tapi tetap berbatu di beberapa titik. Sepanjang perjalanan, Tole memperhatikan kampungnya yang tak banyak berubah. Warung Mie Jowo Mbah Kaji masih ada di sudut bundaran desa, pohon beringin tua di dekat masjid juga tetap berdiri kokoh.


Saat melewati masjid, Mbah Kaji menepuk bahu Tole. "Besok kita tarawih di sini, ya."


Tole mengangguk, tak ingin mengecewakan Mbah Kaji. Ia tahu, di usia yang sudah menyentuh sembilan puluh tahun, semangat ibadah Mbah Kaji tak pernah luntur. Malam-malamnya yang dulu dihabiskan bersama kartu remi dan domino, kini telah berganti dengan sujud panjang dan zikir yang tak putus.


Setibanya di warung, Tole membantu Mbah Kaji turun dari bus. Warung dan juga rumah itu terasa sepi, meski tetap bersih dan rapi. Foto almarhumah Mbah Putri masih terpajang di dinding, tersenyum dengan kerudung putihnya. Tole menelan ludah, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lebaran kali ini terasa berbeda.


Mbah Kaji melangkah masuk, lalu berbalik dan menatap Tole dengan tatapan hangat. "Le, selama di sini, temani Mbah ke masjid tiap waktu, ya. Biar ada yang kawan jalan."


Tole mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam suara Mbah Kaji yang membuatnya merasa ingin tinggal lebih lama di kampung kali ini.

---


Malam itu, Tole berbaring di kamar lamanya, memandangi langit-langit yang tak banyak berubah. Pikiran tentang Mbah Kaji dan kepergian Mbah Putri berputar-putar dalam kepalanya. Ia tahu, ada banyak hal yang ingin diceritakan oleh lelaki tua itu.


Dan ia siap mendengarkan semuanya. Malam semakin larut. Dari kamarnya, Tole bisa mendengar suara serangga malam bersahutan, berpadu dengan hembusan angin yang menerobos celah jendela kayu. Kampung ini selalu memberinya ketenangan yang tak pernah ia temukan di Jakarta.


Dari luar, samar-samar terdengar langkah pelan. Tole mengintip dari balik pintu. Mbah Kaji, dengan sarung tergulung di pinggang dan peci miring di kepala, berjalan menuju sumur di belakang rumah. Usianya sudah  sembilan puluh, tapi kebiasaannya tetap sama—membangunkan malam dengan guyuran air dingin sebelum tahajud.


Tole keluar perlahan, bersandar di pintu dapur, memperhatikan lelaki tua itu menyiduk air dengan timba. Mbah Kaji mengguyur tubuhnya tanpa ragu, tak terusik oleh dinginnya udara lereng gunung.


"Mbah, ndak kedinginan?" Tole bersuara pelan.


Mbah Kaji menoleh, lalu terkekeh. "Kalau dingin aja takut, gimana nanti di alam kubur, Le?"


Tole menghela napas, tersenyum kecil. Jawaban Mbah Kaji selalu sederhana, tapi dalam.


"Kamu ndak tidur?" tanya Mbah Kaji sembari merapikan sarungnya.


"Entah kenapa, rasanya pingin ngawal Mbah saja," jawab Tole.


Mbah Kaji tersenyum tipis, lalu melangkah masuk ke dalam rumah, duduk di atas sajadah yang sudah terbentang. Tole mengikutinya, duduk bersila di dekatnya.


"Kamu masih ingat cerita waktu Mbah muda dulu?" Mbah Kaji bertanya sambil mengelus tasbih di tangannya.


"Yang mana, Mbah? Yang soal warung? Atau yang lebih tua lagi, pas Mbah masih jadi 'God of Gambler'?"


Mbah Kaji terkekeh lagi, kali ini lebih pelan. "Hidup ini seperti permainan, Le. Ada menang, ada kalah. Dulu Mbah sering menang di meja judi, tapi kalah di mata Allah. Sekarang Mbah berusaha menang di jalan yang lain."


Tole terdiam. Ia sudah sering mendengar kisah itu, tapi entah kenapa malam ini rasanya lebih berat. Ada sesuatu yang ingin Mbah Kaji sampaikan, tapi belum juga diutarakan.


Mbah Kaji menatap Tole dengan lembut. "Mbah ini sudah tua, Le. Entah berapa Lebaran lagi yang bisa Mbah lewati. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat baik-baik."


Tole menunggu, menatap mata tua itu yang masih menyala penuh semangat.


"Jangan pernah menunda kebaikan. Hidup ini pendek, dan kita tak tahu kapan akan dipanggil pulang."


Tole mengangguk pelan. Di luar, azan pertama menggema dari masjid kampung. Mbah Kaji bangkit, meraih sarungnya, lalu menepuk bahu Tole.


"Ayo, temani Mbah ke masjid. Mulai malam ini, kamu harus belajar bangun lebih awal."


Tole tersenyum, lalu berdiri. Malam ini, ia merasa bukan hanya pulang ke kampung, tapi juga pulang ke sesuatu yang lebih dalam—ke akar hidup yang dulu sering ia lupakan.


Dan ia tahu, selama Mbah Kaji masih ada, ia akan terus belajar.

--- 


Selepas subuh, Tole duduk di serambi masjid, menunggu Mbah Kaji selesai wirid. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan ini sejak kecil. Saat teman-temannya dulu berlarian pulang seusai salat, Tole selalu menunggu. Ada tugas kecil yang diajarkan Mbah Kaji sejak dulu—menata sandalnya agar menghadap keluar.


"Hidup ini tidak mudah, Le. Maka selalu mudahkan langkahmu dan langkah orang lain," begitu kata Mbah Kaji saat pertama kali mengajarkannya.


Tole tersenyum kecil saat mengingatnya. Ia pun jongkok, membalik sandal Mbah Kaji, memastikan posisinya benar. Hal kecil, tapi bermakna besar.


Tak lama, Mbah Kaji melangkah keluar. Sekilas ia melirik sandalnya, lalu tersenyum tipis. Tanpa berkata apa-apa, tangannya menepuk bahu Tole ringan. Tak perlu ucapan terima kasih—hanya isyarat hangat bahwa ia tahu dan menghargai.


Dua hari sebelum Lebaran, Tole menemani Mbah Kaji ziarah ke makam Mbah Putri. Matahari pagi belum terlalu terik ketika mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju pemakaman di bukit kecil belakang kampung. Udara masih segar, dan langkah Mbah Kaji tetap mantap meski usianya sudah sembilan puluh.


Setibanya di pusara Mbah Putri, Mbah Kaji duduk di kursi kayu kecil dengan tenang. Tole mengikutinya. Mereka membawa bunga yang sudah dicuci, menaburkannya dengan hati-hati di atas makam.


Tanpa perlu membuka kitab atau catatan, Mbah Kaji langsung melantunkan Surat Yasin dengan suara pelan, merdu, tapi penuh penghayatan. Ayat demi ayat mengalir begitu lancar dari bibirnya.


Tole terpaku. Ia sendiri masih harus membuka gawai untuk membaca doa tahlil. Tangannya menggenggam ponsel, matanya mengikuti baris-baris doa di layar, sementara di sebelahnya, Mbah Kaji terus melantunkan ayat-ayat itu seolah sudah tertanam dalam jiwanya.


Hati Tole terasa hangat sekaligus sedikit malu. Ia yang lebih muda, yang terdidik di kota besar, ternyata masih bergantung pada teknologi untuk membaca doa. Sementara lelaki tua di sampingnya, yang dulu hidup di jalanan keras, telah menghafal semuanya dengan hati.


Selesai berdoa, Mbah Kaji menepuk lututnya pelan. "Le, kamu tahu kenapa Mbah hapal ini semua?"


Tole menggeleng.


"Karena dulu, waktu Mbah masih muda dan hidup ngawur, satu-satunya yang bisa bikin hati Mbah tenang adalah suara Mbah Putrimu membaca Yasin setiap malam. Waktu itu, Mbah belum bisa baca huruf Arab dengan lancar, jadi Mbah hanya mendengarkan. Lama-lama, ayat-ayat itu menempel sendiri di kepala."


Tole menelan ludah, merasakan sesuatu mengganjal di dadanya.


"Kalau kamu mau, Le, jangan cuma baca di gawai. Baca, dengarkan, lalu rasakan. Biar jadi bagian dari hidupmu."


Tole mengangguk pelan. Ia memandangi makam Mbah Putri, lalu ke arah Mbah Kaji. Dalam hening, ia berjanji dalam hati.


Kelak, jika tiba saatnya, ia ingin bisa mengantarkan Mbah Kaji dengan doa-doa yang dihafalnya sendiri. Bukan dari layar ponsel.

--- 


Pagi itu, usai membaca doa Mbah Kaji menyerahkan sepucuk surat yang tampaknya sudah lama disimpan.


"Mbah Putri meninggalkan ini untukmu sebelum beliau wafat," kata Mbah Kaji lirih.


Dengan tangan gemetar, Tole membuka surat itu. Tulisan tangan Mbah Putri masih jelas:


"Tole, mungkin saat kamu membaca ini, Mbah Putri sudah tidak ada di sisimu lagi. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu: hidup ini bukan tentang mencari siapa kita, melainkan tentang bagaimana kita membuat dunia lebih baik dengan keberadaan kita. Jangan pernah berhenti menata langkah, Nak. Kamu adalah berkah yang dititipkan Tuhan untuk dunia. Jika hadirmu tidak menggenapkan, dan kepergianmu tidak mengganjilkan, untuk apa kamu ada?"


Air mata Tole mengalir deras.


Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Mbah Kaji menepuk pundaknya dan berkata, "Le, tahukah kamu, setiap kali kamu pergi ke mana pun, Mbah Putri selalu berdoa dengan satu kalimat yang sama?"


Tole menggeleng.


"Ya Allah, mudahkanlah langkah anak ini, sebagaimana ia selalu berusaha memudahkan langkah orang lain."


Tole tertegun. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa kebiasaannya menata sandal orang lain hanyalah kebiasaan kecil. Tapi ternyata, di balik itu ada doa yang terus mengiringi langkahnya.


Lalu, sesuatu menarik perhatiannya. Batu nisan Mbah Putri. Ada sesuatu yang terasa aneh. Ukiran namanya sedikit berbeda dari yang pernah ia ingat. Ia mengusapnya perlahan, lalu menoleh ke Mbah Kaji.


"Kenapa namanya berbeda, Mbah?"


Mbah Kaji tersenyum tipis. "Karena itu bukan nama asli Mbah Putri. Nama aslinya tidak pernah ia pakai sejak dulu. Kamu tahu kenapa?"


Tole menggeleng.


"Karena ia memilih untuk hidup bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai orang yang terus memberi makna untuk orang lain. Dan sekarang, giliranmu, Le. Apapun nama yang kamu sandang, apa pun masa lalumu, yang terpenting adalah apa yang kamu lakukan untuk orang lain."


Tole menatap langit. Perlahan, ia mengerti.


Ia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Al-Fatihah untukmu, Mbah Putri. Aku akan terus belajar dan berbuat kebaikan, sebagaimana engkau ajarkan kepadaku."


Saat ia membuka mata, angin bertiup lembut. Seakan membawa pesan bahwa Mbah Putri tak pernah benar-benar pergi.


Tole melangkah keluar dari area makam dengan keyakinan baru. Ia tahu, kehilangan memang menyakitkan, tapi bukan alasan untuk berhenti.


"Aku akan terus berjalan, Mbah. Aku akan menata langkahku dan langkah orang lain. Aku akan menjadikan hidupku rahmatan lil ‘alamiin."


Matahari bersinar lebih terang saat ia melangkah pulang, membawa semangat baru dalam hatinya.

--- 


Lebaran kali ini memang berbeda. Tak ada lagi suara lembut Mbah Putri yang sibuk di dapur menyiapkan ketupat, tak ada lagi tangan hangatnya yang menyentuh kepala Tole sambil berdoa lirih. Sunyi itu terasa, tapi bukan berarti langkah harus terhenti.


Life must go on. Strike the iron while it is hot. Terus belajar dan berbuat kebaikan.


Lereng Gunung Prahu

H-1 Lebaran 1446 H

Komentar

Postingan Populer