Pelita di Negeri Bintang
Cerpen oleh -haridewa-
Restoran Weekend.ers di Bogor selalu memikat Tiara. Lampu temaram yang memantulkan bayang-bayang hangat, meja kayu dengan ukiran sederhana, serta aroma wangi kopi lokal yang bercampur harum pasta berbau khas Italia.
Namun malam itu, suasananya berbeda. Hatinya berdebar, tangannya dingin meski udara Bogor tidak terlalu dingin malam itu.
Danu mengajak Tiara ke restoran favorit mereka. Sudah delapan tahun mereka menjalin hubungan, dan Danu adalah sosok yang selalu mendukung setiap langkah Tiara. Ia mendampingi Tiara melewati hari-hari sulit selama SMA dan kuliah S1.
Meskipun mereka berpisah kampus ketika kuliah, Danu melanjutkan studinya di IPB Bogor, sementara Tiara mengambil jurusan Ekonomi Syariah di Universitas Brawijaya Malang, namun hati mereka tetap terpaut. Bahkan ketika mereka kemudian telah lulus, Danu memilih untuk langsung bekerja, namun dia mendorong Tiara untuk mendaftar beasiswa overseas. Dan malam itu adalah pesta perayaan keberhasilan Tiara diterima di Rotterdam School of Management, Erasmus University.
Di depan Tiara sudah terhidang sepiring Pad Thai kesukaannya. Di atas piring putih yang mengkilap, terhampar tumpukan mie lebar berwarna keemasan, dimasak dengan sempurna hingga memiliki tekstur kenyal yang menggoda. Uap harum dengan sentuhan aroma manis, asam, dan sedikit pedas mengepul ke atas, langsung menggoda indra penciuman Ara.
Di tengah-tengah tumpukan mie tersebut, terdapat potongan ayam yang empuk dan udang segar yang ditumis hingga warnanya berubah menjadi merah muda yang cantik. Sejumput tauge segar tersebar di atasnya, memberikan kesegaran yang kontras dengan tekstur mie yang lembut.
Lemon dipotong menjadi irisan tipis, diletakkan di tepi piring untuk memberikan pilihan rasa asam segar bagi yang menginginkannya. Taburan kacang tanah yang dihancurkan kasar memberikan sentuhan renyah dan gurih, sementara daun ketumbar yang cerah menambahkan warna hijau yang segar di atas hidangan.
Tak lupa, serpihan cabai kering yang ditaburkan dengan hati-hati, memberikan opsi pedas bagi Tiara yang memang penyuka makanan pedas. Semua elemen ini berpadu dengan sempurna, menciptakan harmoni warna, tekstur, dan rasa yang mengundang selera.
Di sampingnya sudah menemani satu gelas besar Thai Tea.
Pesanan Danu lebih sederhana. Nasi goreng seafood dan long black Americano plus ice.
Setelah makanan utama terhidang, Danu tiba-tiba menarik napas panjang. Tiara menatapnya, curiga.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Danu sambil merogoh saku jaketnya. Tiara mengangkat alis, separuh penasaran, separuh khawatir.
Danu mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru hitam. Dengan tangan bergetar, ia membukanya, memperlihatkan cincin emas putih dengan berlian kecil yang memantulkan cahaya lilin.
“Tiara,” suara Danu serak, “aku tahu kamu memiliki mimpi besar. Dan aku mendukungmu, selalu. Tapi sebelum kamu pergi, aku ingin memastikan sesuatu. Maukah kamu menikah denganku?”
Tiara membeku. Hatinya dipenuhi berbagai rasa: bahagia, bingung, dan takut. Ia memandang cincin itu, lalu menatap wajah Danu yang penuh harap.
“Danu...” suara Tiara bergetar. “Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat mencintaimu, tapi... ini terlalu cepat. Besok aku akan berangkat ke Belanda. Aku butuh waktu untuk berpikir.”
Danu tersenyum kecil, meski ada kekecewaan di matanya. “Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kau tahu, aku akan selalu menunggumu, Tiara.”
Malam itu, mereka menyelesaikan makan malam dengan perasaan yang menggantung. Di satu sisi, ada cinta yang begitu besar. Di sisi lain, ada mimpi yang belum kelar.
________________________________________
Tiara berdiri di antara keluarganya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Matanya berkaca-kaca, tapi ia berusaha tetap tersenyum. Ayah, Ibu, dan Rani terlihat menahan emosi, masing-masing dengan cara berbeda.
Ibu sibuk merapikan syal Tiara, meski sebenarnya syal itu sudah sempurna terpasang. “Jangan lupa makan yang teratur. Jangan terlalu sibuk sampai lupa istirahat. Jangan lupa sholat juga,” kata ibu sambil sesekali menyeka air mata.
Ayah menggenggam tangan Tiara erat-erat, seolah takut melepaskannya. “Tiara, kamu adalah kebanggaan kami,” katanya dengan suara berat. “Hati-hati di sana, ya. Jaga dirimu baik-baik.”
“Iya, Yah,” jawab Tiara, suaranya nyaris berbisik.
“Dan jangan lupa pakai jaket tebal. Di sana dingin, apalagi sekarang masuk musim gugur,” tambah Ayah, suaranya berat menahan emosi. “Satu lagi pesan Ayah. Pasport harus selalu melekat di badanmu. Terutama kalau kamu berada di luar rumah!”
Rani, dengan caranya yang lebih santai, malah menggoda. “Ra, jangan lupa oleh-oleh ya! Dan kalau ketemu bule ganteng, jangan lupa kenalin ke aku,” katanya sambil tertawa kecil, meski matanya juga mulai berkaca-kaca. Pelukan terakhirnya pada Tiara begitu erat hingga Tiara hampir tidak bisa bernapas.
“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, ya!” bisik Rani.
Tiara mengangguk. “Aku akan baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir. Titip kamarku ya. Tolong sesekali disapu, dan kamar mandinya juga dibersihkan. Kakak boleh tidur di situ kalau lagi kangen aku”
Waktu boarding semakin dekat, tapi keluarganya tetap berdiri di sana, menolak bergerak. Mereka bahkan memutuskan untuk menunggu hingga pesawat Qatar Airways yang akan membawa Tiara benar-benar lepas landas pada pukul 00.30 WIB.
Saat Tiara hendak memasukkan kopernya ke bagasi, petugas bandara memberi tahu bahwa beratnya melebihi batas. “Koper Anda kelebihan 4 kilogram, Mbak,” kata petugas itu.
Tiara panik. Ia membuka koper di depan keluarganya, memeriksa barang-barang yang bisa dikeluarkan. “Astaga, mie instan, sambal hitam bebek Madura, saus-saus ini... aku nggak mungkin bawa semuanya!” katanya dengan wajah cemas.
“Sini, biar aku yang amankan!” seru Rani dengan mata berbinar. Ia dengan senang hati mengambil mie instan, sambal, dan saus-saus itu. “Buat aku aja, ya! Lumayan buat stok sebulan.”
Ayah hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Makanya, Ayah bilang jangan bawa makanan berlebihan. Di sana juga ada makanan, Ra.”
Setelah koper selesai ditimbang ulang, Tiara bergegas menuju pintu keberangkatan. Ia menoleh ke belakang. Melihat wajah keluarganya yang penuh cinta membuat hatinya terasa berat. Tapi ia tahu, ini adalah langkah yang harus diambilnya.
________________________________________
Transit di Doha terasa seperti mimpi. Bandara Internasional Hamad begitu besar dan modern, jauh dari apa yang pernah Tiara bayangkan. Ia duduk di sebuah kafe dengan secangkir teh mint di tangannya, mencoba mengisi waktu selama beberapa jam sebelum penerbangan berikutnya ke Amsterdam.
Ponselnya bergetar. Video call dari Rani. “Halo, Kak!” Tiara menyapa dengan senyum lebar.
“Ra, gimana di sana? Seru nggak? Keren banget kan bandara Qatar?” Rani bertanya dengan antusias.
“Gila, Kak, ini bandara atau mal? Besar banget, ada air mancur di dalam, dan liat ini!” Tiara memutar kameranya, menunjukkan patung beruang kuning raksasa di tengah aula.
Rani tertawa. “Itu terkenal banget, Ra. Jangan lupa foto di situ buat kenang-kenangan!”
“Udah dong! Aku tadi minta tolong orang buat fotoin. Nanti aku kirim ke grup keluarga.”
Obrolan mereka mengalir ringan. Tiara menceritakan bagaimana ia hampir salah membaca jadwal gate karena terlalu sibuk berkeliling bandara. “Untung nggak ketinggalan pesawat!” katanya sambil tertawa.
“Ra, kamu udah makan?” tanya Rani tiba-tiba.
“Udah, tadi aku beli sandwich. Tapi rasanya beda, Kak. Nggak seenak roti bakar di Indonesia,” jawab Tiara sambil tersenyum kecut.
Rani tertawa. “Makanya jangan ninggalin sambal hitam bebek Madura itu! Bisa bikin sandwich biasa jadi luar biasa.”
“Aduh, jangan diingetin dong!” Tiara tertawa kecil. “Kamu enak di rumah, Kak. Pasti udah makan mie instan itu, kan?”
“Baru tadi malam!” jawab Rani dengan nada puas. “Dan aku mau makan lagi nanti malam.”
Mereka terus berbincang hingga panggilan untuk penerbangan berikutnya terdengar. Sebelum menutup panggilan, Rani berkata, “Ra, semangat ya di sana. Jangan lupa bahagia, dan selalu cerita ke aku.”
“Iya, Kak. Terima kasih. Aku sayang kalian,” jawab Tiara.
“Sayang juga, Ra. Sampai ketemu nanti!”
Tiara menutup panggilan dengan senyum. Meski jauh dari rumah, kehangatan keluarganya terasa begitu dekat, bahkan di tengah bandara yang asing di negeri orang.
________________________________________
Begitu tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, Tiara disambut oleh udara dingin yang menusuk. Suhu 7 derajat Celcius bukan hal yang biasa bagi seorang gadis yang terbiasa dengan iklim tropis.
Ia merapatkan jaketnya dan menarik napas panjang. Untungnya, asma yang kadang menyerangnya tidak muncul malam itu. Ia sudah mempersiapkan inhaler di kantong jaket, tapi ia tak perlu menggunakannya.
“Selamat datang di Belanda,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menguatkan hati.
Setelah mengurus imigrasi dan mengambil koper, Tiara menuju taksi yang akan membawanya ke Rotterdam. Sepanjang perjalanan, ia memandangi pemandangan kota yang berbeda dari apa yang pernah ia lihat sebelumnya. Kanal-kanal yang berkilauan di bawah lampu jalan, rumah-rumah bata merah dengan jendela besar, dan sepeda-sepeda yang terparkir rapi di setiap sudut.
“Aku benar-benar di sini,” bisiknya.
________________________________________
Hari pertama di kampus adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan Tiara. Gedung kampus Erasmus University begitu megah, dengan arsitektur modern dan suasana internasional.
Tiara memasuki ruang kelas pertamanya dengan hati yang sedikit gugup. Mahasiswa dari berbagai negara sudah memenuhi ruangan, masing-masing sibuk dengan laptop atau diskusi kecil.
“Hi, are you Tiara?” suara ramah membuyarkan lamunannya. Seorang gadis dengan rambut pirang dan senyum cerah berdiri di depannya.
“Yes, I am,” jawab Tiara dengan aksen Inggris yang sedikit kaku.
“I’m Emma, your group partner for the orientation project,” kata gadis itu sambil mengulurkan tangan.
Tiara menjabat tangan Emma dengan senyum lega. Setidaknya, ia tidak merasa sendirian di tempat yang asing ini.
Hari-hari berikutnya diisi dengan penyesuaian. Tiara berjuang melawan jetlag yang membuatnya sulit tidur di malam hari dan mengantuk di siang hari. Namun, ia menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Ia membiasakan diri dengan jadwal baru, berjalan-jalan di sekitar kampus untuk menghirup udara segar, dan menghabiskan waktu di perpustakaan yang penuh dengan buku-buku ekonomi dan syariah.
________________________________________
Akhir pekan semester pertama di Eropa, Tiara memutuskan untuk mengunjungi Paris. Perjalanan ini akan menjadi pengalaman pertamanya menggunakan kereta cepat di Eropa, dan ia merasa antusias sekaligus gugup.
Jauh hari Tiara sudah memesan tiket kereta Eurostar dari Rotterdam Centraal ke Paris Gare du Nord, melalui laman resmi operator kereta api Belanda, yaitu Nederlandse Spoorwegen (NS). Dengan cara cerdas seperti ini, ia berhasil mendapatkan tiket super promo dengan harga hanya €40 (sekitar Rp 650.000) untuk sekali jalan.
Ia memilih jadwal keberangkatan pukul 07:58 pagi, yang akan membawanya tiba di Paris sekitar pukul 10:35, dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam 37 menit. Pagi itu, Tiara tiba di Rotterdam Centraal dengan koper kecil dan semangat yang menggebu. Stasiun ini modern dan bersih, dengan arsitektur futuristik yang berbeda dari stasiun-stasiun di Indonesia. Ia terkesan dengan fasilitas yang lengkap, mulai dari toko-toko, kafe, hingga area duduk yang nyaman.
Saat memasuki kereta Eurostar, Tiara langsung merasakan perbedaannya dengan kereta api yang pernah ia naiki di Indonesia. Interiornya elegan dengan kursi yang empuk dan ruang kaki yang luas. Setiap kursi dilengkapi dengan colokan listrik, memudahkan penumpang untuk mengisi daya perangkat elektronik mereka. Kereta melaju dengan kecepatan tinggi, namun tetap stabil dan tenang, memberikan pengalaman perjalanan yang nyaman.
Tiara teringat pengalamannya naik kereta dari Jakarta ke Malang. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 jam dengan kereta eksekutif, di mana getaran dan suara rel cukup terasa. Berbeda dengan Eurostar yang melaju halus, kereta di Indonesia sering kali mengalami guncangan kecil. Selain itu, fasilitas seperti colokan listrik dan Wi-Fi belum menjadi standar di semua kereta Indonesia.
Setibanya di Paris Gare du Nord, Tiara disambut oleh suasana stasiun yang sibuk dan megah. Arsitektur klasik dengan langit-langit tinggi dan jendela besar memberikan nuansa Eropa yang khas. Ia merasa seperti berada di dalam film, dengan orang-orang berlalu-lalang, beberapa membawa baguette, dan lainnya sibuk dengan peta kota Paris.
Kota itu seperti mimpi yang menjadi nyata. Menara Eiffel berdiri megah, dikelilingi oleh taman-taman yang penuh dengan pengunjung.
Di sebuah kafe kecil, ia bertemu Fadila, seorang mahasiswi Indonesia yang juga sedang belajar di Paris.
“Kita ini beruntung, Tiara,” kata Fadila sambil menyeruput kopi. “Tidak semua orang punya kesempatan seperti kita. Berkeliling dunia seperti ini bukan hanya tentang melihat tempat baru, tapi juga bagian dari ibadah. Bukankah Nabi pernah berkata, ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’?”
Tiara mengangguk. Kata-kata Fadila menggugah hatinya. Ia merasa lebih yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari jalan hidup yang diridhoi Allah.
“Masa muda adalah waktu terbaik untuk mengumpulkan pengalaman,” lanjut Fadila, “Perjalanan ini bukan hanya tentang kita, tapi tentang apa yang bisa kita berikan pada dunia.”
Kata-kata itu terngiang di telinga Tiara selama perjalanan pulang ke Rotterdam. Ia tahu, perjalanan ini adalah bagian dari pemenuhan misi hidupnya.
________________________________________
Di tengah kesibukan kuliah dan petualangan, Tiara tidak bisa menghindari pikiran tentang Danu. Lamaran itu, janji untuk menunggu, semuanya menjadi bayangan yang selalu menghantuinya.
Malam itu, Tiara membuka laptopnya dan menulis email.
“Danu, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai mimpi-mimpiku. Aku butuh waktu untuk menyelesaikan semua ini. Aku harap kamu mengerti.”
Ia menekan tombol ‘Send’ dengan hati yang berat. Tapi ia tahu, inilah langkah yang harus diambilnya.
Bersambung...

Komentar